Ya, dunia memang panggung sandiwara. Dan nun dahulu, ketika Republik ini masih dibawah Soeharto, Indonesia adalah sebuah teater besar, dengan pencapaian artistik yang tak ada tandingan. Tragedi dan komedi bergulir mulai dari pabrik arloji di Surabaya dengan lakon Marsinah, sampai kepada sebuah Kongres Kebudayaan. Dan ketika itu, aku menulis :
REKONSTRUKSI MARSINAH
perempuan dengan luka bacok di punggung
kamu datang pagi-pagi ke gedung parlemen
dengan wajah desa yang biasa
dengan bedak dan gincu seadanya
kau sampaikan kesahmu
namaku marsinah wanita desa
pekerjaanku selain buruh tani
juga buruh sebuah pabrik arloji
gajiku tak cukup tiga kali makan
tidak punya cita-cita dan tujuan hidup
tapi aku mau bertanya :
mengapa bicara jujur bisa dilarang
pada pertengahan bulan juli 1966
mochtar lubis dengan optimis menulis :
"kita menolak usaha-usaha untuk membina di negeri kita satu kekuasaan yang monolitik, yang hendak mencap seluruh bangsa kita dalam satu warna yang dibolehkan oleh pihak yang berkuasa saja, yang hendak memutuskan apa yang baik untuk rakyat tanpa persetujuan para rakyat"
mengapa orang bersuara saja bisa dilarangpada tanggal 29 oktober 1993
menteri sekertaris negara moerdiono di depan kongres bahasa indonesia, mengatakan :
"keindonesiaan bangsa dan nusa yang hendak dibangun bukanlah sekadar kelanjutan atau penjumlahan dari kedaerahan yang merupakan unsurnya tetapi merupakan peningkatan, penyempurnaan dan perluasan dan juga koreksi terhadap keterbatasan kedaerahan itu"
perempuan dengan luka bacok di punggung
kau datang dari jauh ke gedung parlemen
dengan wajah desa yang biasa
menumpang kertas koran yang telah lusuh
kau perkenalkan dirimu
namaku marsinah wanita desa
sebenarnya, pak parlemen
kalau mau sedikit canggih
addressku di tajuk rencana koran-koran
ayahku padang asri lapangan golf
ibuku kondominium tinggi menjulang langit
dan nanti aku mau jadi yatim piatu saja
tapi aku mau bertanya, wahai, pak parlemen
mengapa orang tidak bisa bilang tidak

pada pertengahan tahun 1964
di serambi belakang instana merdeka
dengan santai sambil meneguk kopi
bung karno bilang kepada cincy adams :
"oleh karena kami masih dalam taraf revolusi ekonomi, aku tidak mengijinkan kritik-kritik yang merusak tentang kepemimpinanku, begitupun aku tidak mengijinkan kemerdekaan pers. tentara manakah yang mengijinkan seorang prajurit menelanjangi jenderalnya di muka umum, hal yang akan menjatuhkan kehormatan dan kepercayaan terhadapnya, saya berpendapat sekarang bahwa saya tidak akan mengijinkan kemerdekaan yang bebas, yang memberikan kebebasan kepada pers untuk membunuh kepala negaranya dengan ditonton oleh seluruh dunia"
mengapa orang bersuara bisa dilarang
pada tanggal 11 juni 1957
di hadapan civitas akademika universitas indonesia
bung hatta bapak bangsa mengatakan :
"apabila membentuk manusia susila dan demokratis yang insyaf akan tanggungjawabnya atas kesejahteraan masyarakat nasional dan dunia seluruhnya, menjadi tujuan utama dari perguruan tinggi, maka titik berat dari pendidikan terletak pada pembentukan karakter, watak. Ilmu dapat dipelajari oleh segala orang yang cerdas dan tajam otaknya, akan tetapi manusia berkarakter tidak diperoleh dengan begitu saja. pangkal dari segala pendidikan karakter ialah cinta kepada kebenaran dan berani mengatakan salah dalam menghadapi sesuatu yang tidak benar. sarjana yang tidak punya karakter, mau saja menerima suatu teori yang bertentangan dengan keyakinan ilmunya karena mendapat tekanan dari atas."
“tapi mengapa berbahasa lurus saja bisa dilarang ?”
“dek, marsinah. sini,’tak bilangin.
sini. aku, pak parlemenmu ini, mau bilang
bersuara itu ‘ndak dilarang
tapi ya mbok ditakar
kalau diluar takaran yang memang bisa kena
larangan, pembatasan
tapi yang dilarang itu kan hanya kata-kata
kata yang biasanya dikatakan dengan spontan
kata yang seperti nyanyian
nyanyian yang nyelonong begitu saja
ketika kamu mengguyur air pertama ke kepalamu
di kamar mandi ditemani sikat gigi dan sikat cuci
atau senandung guman ketika kamu
sedang memarut kelapa
itu ‘ndak ilmiah, ‘ndak proporsional
itu lho, dik, yang aku mau katakan
tapi jangan ribut lho
‘ntar pendapatku salah dan kedengaran keluar
aku kan bisa repot”
“tapi, pak, bapak ini sebenarnya siapa ?”
“aku, dik, aku. mosok ‘ndak kenal ?
namaku bento rumah real estate
mobilku banyak harta berlimpah
orang memanggilku boss eksekutif
tokoh papan atas, atas segalanya
asyik…”
“oh, bapak vokalis to pak.”
“bukan, dek, wakil rakyat.”
masih pada tanggal 29 oktober 1993
menteri moerdiono selanjutnya menyatakan,
"mungkin tidak terlalu keliru untuk menyimpulkan bahwa sebagai media ekspresi sesuatu nilai yang dianut, bahasa mempunyai peranan politik yang penting, bukan hanya sekadar sebagai wahana komunikasi politik, tetapi juga menjadi sarana sosialisasi dan integrasi politik. dan dalam jaman kolonial, bahasa bahkan berfungsi sebagai manifestasi identitas dan garis pembeda yang jelas antara kaum sana dan kaum sini."
tapi mengapa di sini hanya berlaku satu bahasa
tak mungkin berbahasa lain
sehingga kata-kata banyak dilarang
pada tanggal 30 desember 1993
harian kompas menulis:
"keterbukaan memang menjadi indikator demokrasi. itu sebabnya keterbukaan kini dilegitimasi sebagai pendorong demokrasi. tapi adakah yang benar-benar berubah, kecuali fakta bahwa kini orang bisa membicarakan segala persoalan – termasuk menyampaikan aspirasi politik – secara lebih terbuka ? apakah ini bukan cuma keterbukaan untuk keterbukaan?"
perempuan dengan luka bacok di punggung,
marsinah
nasibmu tumpas di tangan majikan
kisahmu tamat di lembaran koran
harapanmu kandas di sajak para penyair
dukamu kikis di spanduk para mahasiswa
tetapi adakah nasibku berubah
marsinah,
sungguh ingin aku katakan
berbahasa yang baik dan benar memang penting
tetapi yang lebih penting
berperilaku yang baik dan benar
Makassar, 30 Desember 93 / 4 Januari 94
memainkan kapai-kapai, arifin c. noerfrom my pic archive