Sunday, February 26, 2006

SELAYAR DAN SAJAK LAMA


Mengenang Selayar adalah mengenang kampung-kampung di bibir pantai, seperti tampak pada gambar di samping. Juga mengenang bagaimana pergulatan hidup para nelayan yang berpusar pada siklus dua musim, musim barat dan musim timur. Pada musim-musim Timur dimana laut selat Makassar akan tenang, adem, tenteram, hampir-hampir tak ada masalah bagi mereka. Tapi sebaliknya, ketika musim Barat tiba, antara akhir September sampai akhir Februari, gelombang akan bergulung-gulung memukuli garis pantai disertai hujan berangin yang bisa menerbangkan atap-atap seng rumah-rumah panggung, para nelayan akan berdiam di rumah, bergemul sarung, berkumpul merokok dan berbincang dan tentu saja bekerja bakti memperbaiki kampung dan terutama musholah mereka. Masa musim Barat adalah masa menganggur (masa dimana kekerabatan dijalin kembali, disegarkan).
Tapi tentu saja ini hanya tafsir dari dua-musin siklus hidup nelayan Selayar. Musim Timur adalah masa untuk bekerja membereskan urusan perut dan bersifat individual domestik dan musim Barat adalah masa untuk menyegarkan rohani dan bersifat sosial publik.

dan kenangan
pada kampung-kampung yang jauh
pada rumah panggung rapuh beratap seng
pada otot berkilat para nelayan
pada gemuruh gelombang memukul-mukul harapan pada pantai
dan kesiur angin tak kenal kasih, di musim barat
adalah denyut bagi napasmu, selalu
(sama dan sebangun dengan desis pentium dan hamburan milyar gigabita dalam transaksi data dan suara tak henti di depan-mu, kini)

Tuesday, October 18, 2005

SURAT ENTAH


Catatan Ketiga

-kukirimkan Gabriel Marquez


Adik, lagi ‘ngapain.
Masihkah kamu meraba-raba ‘suara dari relung tersembunyi’ itu ?
Kali ini aku kirimkan kumpulan cerita Bon Voyage Mr. President, dari Gabriel Garcia Marquez, penulis asal Columbia dan memenangkan nobel sastra 1982. Sayangnya saya cuma bisa mengirim edisi Indonesia-nya yang baru terbit. Kukira, engkau akan menyukai Marquez, soalnya penyair Columbia ini sudah banyak sekali diulas oleh jurnal-jurnal sastra di sini ; saya kira yang paling berjasa memperkenalkan sastra amerika latin belakangan adalah Nirwan Dewanto, melalui majalah Kalam. Dan kamu tentu sudah membacanya, bukan. (Jangan cuma baca Ayu Utami).
Mengapa Marquez, karena menurutku penting untuk engkau cermati “gaya” dan “struktur” ceritanya. Juga kepadatan bahasanya, meskipun dalam terjemahan. Atau spirit pemberontakan dunia ketiga yang melingkupi karya-karyanya. Karyanya yang lain yang segera terbit dalam indonesia adalah One Hundred Years of Solitude. Nanti aku kirimkan juga. Maksudnya supaya kita bisa berdiskusi dan membicarakannya bersama-sama ; selain tentu saja juga membicarakan hujan, gerimis, fort rotterdam, gerakan perempuan dan soal-soal yang menyangkut “getaran dari ruang tersembunyi” itu. Ya, kan, adik ?
Saya sangat menyukai cerita kedua, pada halaman 49. Bagaimana seorang yang begitu pandai menyembunyikan perasaan hati atas seorang gadis yang dijumpainya dalam perjalanan singkat, dalam sebuah penerbangan ke NY. Oh, ya, cerita-cerita soal NY, kamu tentu ingat Saman, bagaimana Laila menunggu dan berilusi bahwa Saman akan hadir di Central Park…tempat itu memang romantik. Taman / hutan di tengah kota NY yang beringas itu, romantis sekali, dik. Saya sempat ke sana sekali, Nopember kemarin, untuk antara lain mengkonformasi informasi Ayu yang saya baca pada April 98 (saya baca Saman edisi perdana). Dan karena itu juga saya sangat tertarik dengan kota itu, sampai saya juga selalu nulis itu. Setidaknya ada dua cerpen menyinggung NY. Satu saya kirim sekarang, sedang yang lainnya pernah saya kirim (dimuat ?) KIBAR. Oh ya, apa KIBAR masih terbit ?
Juga ada sebuah puisi, tapi kutulis sebelum ke sana :

apa kabar,
di depan rutin yang mendera-dera itu
: meloncat bagai bajing dari subway ke subway
dari konperensi, rapat, nonton dan menulis
lalu ke dapur mengiris kentang
atau memesan tempat di salon
atau menelepon pialangmu di bursa ;
pernahkah kamu terkenang
pada seorang lelaki yang mencintai ?

“apa perlu ?” tulismu pekan lampau
“aku dapat memesan kenyataan
dari love facs service,
murah dan afektif, dan di sana
aku tak sendiri
-- dan kenangan :
itu tidak produktif, sebab aku tidak bekerja
sebagai seniman
dan di sini new york bukan bandung bukan soppeng
tempat sang waktu dapat melamun dan bermimpi”

sorry aku salah duga
kukira aku pernah nyangkut dalam mimpimu
dan sanggup membawamu ke taman
atau kuburan
: membuat perhitungan dengan waktu

(Sajak Surat 2
bagi ines sarasvati, new york)

Oke, adik, kukira kita memang mesti banyak menyerap, untuk selanjutnya kita olah untuk keperluan ekspresi kita. Kamu tentu saja menyukai Pramoedya. Aku ada koleksi lengkap tentang karya-karya dia. Nantilah – karena barangnya langka, aku copykan untuk kamu. Tergantung yang mana yang akan engkau baca terlebih dahulu.

Belakangan aku malas menulis puisi. Jadi kali ini aku hanya mengirim puisi yang pernah kutulis nun 94 lampau, ketika aku merasa bahwa seorang yang jatuh cinta bisa mengalami hal ini :

seperti lagu berirama rumba
pernah ada niatku berberita padamu
tentang tangkai bunga karang yang membayang
di dasar samudera yang mengelilingi pulauku
tapi segera kuurungkan, adik
sebab aku tahu kamu tak suka dansa
dan malam-malamku adalah penantian dingin
di sebuah café terpencil
ditemani segelas soda tak tersentuh

saat-saat seperti ini, adik
engkau pasti berlutut depan altar
menyilangkan tangan mendekap hatimu
menderas firman-firman terpilih
dan mengenang percintaanmu yang pertama
yang membawamu ke dusun-dusun tak bernama
hingga kamu mengerti adenin ada di sini
di sisi sebuah suara tak terkatakan
diantara tuhan dan kematian

o, angin yang menggigil di luar sana
kerinduankah yang engkau bawa ke reranting bergetar itu
atau suatu percobaan beratus kali
menorehkan tanda dari cinta
yang begitu pandai mencederai

seperti sebuah lagu tak terkatakan
inilah aku, adik
seorang lelaki di dalam malam
yang tak pernah terucapkan

( Sajak Tanda Tak Terkatakan)
17.1094

Nah, gimana. Sekarang kukira kamu perlu pula mengirim tulisan-tulisanmu, kan ?
Sungguh, aku kangen.
Salam.
Amy
26/04/99

Sunday, August 21, 2005

TENTANG TIKUNGAN JALAN


Aku menulis Tikungan Jalan setelah memahami arti kesia-siaan. Sebuah kenyataan yang berbeda dengan kebermaknaan yang selalu kita kejar-kejar itu. (Namun, senyatanya, aku sangat dipengaruhi Lakon Dalam Bayangan Tuhan dari Arifin C. Noer ketika memainkan tokoh Sandek yang di ujung-ujung pertunjukan menyebut diri Sysiphus).
Aku menulis Tikungan Jalan, sebagai representasi persimpangan yang kualami nun dahulu, pada masa-masa "mabuk" saat pilihan untuk menjadi ada atau menjadi tiada tak dapat lagi ditolak. (Namun, senyatanya, aku hanya ingin menumpahkan bayangan gagalnya kisah cinta yang kubangun dengannya).

Thursday, July 07, 2005

MALAM & KEMERDEKAAN


Di Tamalanrea, negeri yang engkau sebut 'negeri tak bosan-bosan' itu, kita pernah mendiskusikan kemerdekaan dengan penuh kecemasan. Seakan, kemerdekaan hadir sebagai ancaman nyata bagi eksistensi kita, lantaran dia selalu berbungkus hijau dari seragam tentara. Maklum, kala itu Republik kita dikendalikan oleh para alumni PETA -- militer bentukan pemerintahan pendudukan Jepang -- generasi yang sangat berbeda dengan output politik etik Belanda awal abad yang intelek dan melek buku. Maklum pula, selain aroma militer yang sangat dalam menghunjam sampai sumsum, kita tak ada ruang samasekali untuk bersinggungan secara aktif dengan siapapun di luar sana. Kita memang belum mengenal internet, ketika itu. Yang membentuk kesadaran, sekaligus kecemasan kita, ternyata hanya bahan-bahan dari "dalam" -- dua harian lokal dan beberapa harian nasional dengan para editor tiarap, televisi milik pemerintah dan tentu saja selebaran gelap fotocopian -- juga buku-buku Pramoedya Ananta Toer. Sementara ruang-ruang diskusi kita dibangun dengan telinga intelijen tertanam dalam-dalam di tulangan betonnya (pembangunan nasional sedang marak, suara berbeda adalah anti pembangunan ; stigmatisasi menjadi alat pembungkam sekaligus pembenar tindakan represif).
Di Tamalanrea, kita cemas tetapi kita terus melawan -- sebentuk pembangkangan tak nyata karena belakangan baru kita sadari betapa tak berartinya kata-kata dan betapa tak bermaknanya pikiran-pikiran yang telah kita kerahkan dengan segenap diri. Bandingkan misalnya dengan yang dilakukan Soekarno dan kawan-kawannya di Bandung dan dimana pun pada paruh pertama abad-20 ketika mereka memperdebatkan Republik. Alur pikir ini kemudian menjadi kecemasan yang lain lagi -- dan kemerdekaan, seperti yang kita hayati kala itu, memang bukan kemerdekaan yang sesungguhnya, melainkan sekadar secuil kebebasan semu untuk menyatakan diri dalam ruang kedap suara bernama Orde Baru.
Dan malam-malam kita, malam penuh gigil gairah itu, tak sanggup menolak kenyamanan listrik gratis di Ramsis, yang selalu kita anggap sebagai hal yang sudah semestinya.

Monday, July 04, 2005

MUSIM BELUM BERGANTI

gigil yang engkau kirim lewat getar udara,
membawa sunyi tak habis-habis
-- juga gelisah yang tak teraba
seperti bayang yang berkelebat nyata namun maya
seperti sesuapan cinta yang alpa dikunyah
bagi lapar menggelapar
di luar, musim belum lagi berganti
(june,10,2005)

Thursday, June 23, 2005

TAMALANREA, MAKASSAR


Nun jauh dahulu, aku melewatkan begitu banyak hari di Tamalanrea, kampus Universitas Hasanuddin itu. Semua, kini, telah menjelma kenangan. Dan aku menulis :

Apa yang dapat kita kenang di Tamalanrea, Inung, selain sebuah kisah yang kandas? Sekelumit perjalanan yang perih, seperti tengger burung-burung di rimbun bambu yang senantiasa bergesekan menimbulkan bunyi ngilu tak habis-habis. Atau kecipak air danau yang setiap tahun menelan korban -- tempat kita biasa mempertengkarkan hal-hal sepele, juga wilayah merdeka bagi kita untuk berciuman selepas kuliah sore hari. Ya, apa yang dapat kita kenang selain sebuah pendakian melelahkan, untuk menggapai-gapai masa depan yang entah mengapa saat itu selalu kita bayangkan buram, kelam seperti koridor fakultas-fakultas menjelang malam. Namun, demikian, Inung, saat ini segalanya tiba-tiba terasa sangat indah -- menjelma degup memburu kala pertama kali kusentuh tanganmu nun pada suatu senja selepas kelas matematik. Segala menjelmakan ketakjuban tak habis-habis pada pesona cinta = kita pernah berhari-hari saling berlomba merumuskan definisi cinta kita kala itu = menjelmakan guratan nuansa yang meski masih terasa perih namun menenteramkan. (Keperihan ini juga pernah kita bayangkan dahulu, sebelum percintaan kita yang panas entah dimana dan akhirnya kita menemukan kenyataan bahwa kita memang bercinta tanpa masa depan dan bukan bercinta pada kealpaan semesta seperti kata penyair itu).
Inung, masih ingat 'kan kata-kata yang sering kita kutip kita berjumpa untuk saling membetulkan letak harapan? Dan kini, harapan yang kita betulkan itu ya tinggal harapan = masa depan itu ternyata telah tiba, dan kita tak pernah bisa beranjak tua dalam kenangan. Artinya, kekasih, kita ternyata tak pernah sampai-sampai, meski kita telah melangkah lebih cepat dan lebih banyak dari yang kita bayangkan dahulu. Kita masih di Tamalanrea menunggu matahari terbenam di pucuk PKM, menikmati semburat merah matahari yang menyiram wajah kita yang bersitatapan. Kita masih disana, berjalan bergegas ke Ramsis untuk sebuah makan siang yang ringkas dan tentu saja murah. Atau berlama-lama di Bamboo House menghitung-hitung kealpaan demi kealpaan yang telah kita ciptakan bersama...
Di Tamalanrea, Inung, waktu ternyata tidak pernah benar-benar beranjak. Dia berhenti di kedalaman hati mengendap bersama kenangan.

orasi, kampanye golput - pemilu 92
from my pic archive

DUNIA INI PANGGUNG SANDIWARA

Ya, dunia memang panggung sandiwara. Dan nun dahulu, ketika Republik ini masih dibawah Soeharto, Indonesia adalah sebuah teater besar, dengan pencapaian artistik yang tak ada tandingan. Tragedi dan komedi bergulir mulai dari pabrik arloji di Surabaya dengan lakon Marsinah, sampai kepada sebuah Kongres Kebudayaan. Dan ketika itu, aku menulis :

REKONSTRUKSI MARSINAH

perempuan dengan luka bacok di punggung
kamu datang pagi-pagi ke gedung parlemen
dengan wajah desa yang biasa
dengan bedak dan gincu seadanya
kau sampaikan kesahmu

namaku marsinah wanita desa
pekerjaanku selain buruh tani
juga buruh sebuah pabrik arloji
gajiku tak cukup tiga kali makan
tidak punya cita-cita dan tujuan hidup
tapi aku mau bertanya :
mengapa bicara jujur bisa dilarang


pada pertengahan bulan juli 1966
mochtar lubis dengan optimis menulis :
"kita menolak usaha-usaha untuk membina di negeri kita satu kekuasaan yang monolitik, yang hendak mencap seluruh bangsa kita dalam satu warna yang dibolehkan oleh pihak yang berkuasa saja, yang hendak memutuskan apa yang baik untuk rakyat tanpa persetujuan para rakyat"
mengapa orang bersuara saja bisa dilarang

pada tanggal 29 oktober 1993
menteri sekertaris negara moerdiono di depan kongres bahasa indonesia, mengatakan :
"keindonesiaan bangsa dan nusa yang hendak dibangun bukanlah sekadar kelanjutan atau penjumlahan dari kedaerahan yang merupakan unsurnya tetapi merupakan peningkatan, penyempurnaan dan perluasan dan juga koreksi terhadap keterbatasan kedaerahan itu"

perempuan dengan luka bacok di punggung
kau datang dari jauh ke gedung parlemen
dengan wajah desa yang biasa
menumpang kertas koran yang telah lusuh
kau perkenalkan dirimu

namaku marsinah wanita desa
sebenarnya, pak parlemen
kalau mau sedikit canggih
addressku di tajuk rencana koran-koran
ayahku padang asri lapangan golf
ibuku kondominium tinggi menjulang langit
dan nanti aku mau jadi yatim piatu saja
tapi aku mau bertanya, wahai, pak parlemen
mengapa orang tidak bisa bilang tidak

pada pertengahan tahun 1964
di serambi belakang instana merdeka
dengan santai sambil meneguk kopi
bung karno bilang kepada cincy adams :
"oleh karena kami masih dalam taraf revolusi ekonomi, aku tidak mengijinkan kritik-kritik yang merusak tentang kepemimpinanku, begitupun aku tidak mengijinkan kemerdekaan pers. tentara manakah yang mengijinkan seorang prajurit menelanjangi jenderalnya di muka umum, hal yang akan menjatuhkan kehormatan dan kepercayaan terhadapnya, saya berpendapat sekarang bahwa saya tidak akan mengijinkan kemerdekaan yang bebas, yang memberikan kebebasan kepada pers untuk membunuh kepala negaranya dengan ditonton oleh seluruh dunia"

mengapa orang bersuara bisa dilarang

pada tanggal 11 juni 1957
di hadapan civitas akademika universitas indonesia
bung hatta bapak bangsa mengatakan :
"apabila membentuk manusia susila dan demokratis yang insyaf akan tanggungjawabnya atas kesejahteraan masyarakat nasional dan dunia seluruhnya, menjadi tujuan utama dari perguruan tinggi, maka titik berat dari pendidikan terletak pada pembentukan karakter, watak. Ilmu dapat dipelajari oleh segala orang yang cerdas dan tajam otaknya, akan tetapi manusia berkarakter tidak diperoleh dengan begitu saja. pangkal dari segala pendidikan karakter ialah cinta kepada kebenaran dan berani mengatakan salah dalam menghadapi sesuatu yang tidak benar. sarjana yang tidak punya karakter, mau saja menerima suatu teori yang bertentangan dengan keyakinan ilmunya karena mendapat tekanan dari atas."

“tapi mengapa berbahasa lurus saja bisa dilarang ?”
“dek, marsinah. sini,’tak bilangin.
sini. aku, pak parlemenmu ini, mau bilang
bersuara itu ‘ndak dilarang
tapi ya mbok ditakar
kalau diluar takaran yang memang bisa kena
larangan, pembatasan
tapi yang dilarang itu kan hanya kata-kata
kata yang biasanya dikatakan dengan spontan
kata yang seperti nyanyian
nyanyian yang nyelonong begitu saja
ketika kamu mengguyur air pertama ke kepalamu
di kamar mandi ditemani sikat gigi dan sikat cuci
atau senandung guman ketika kamu
sedang memarut kelapa
itu ‘ndak ilmiah, ‘ndak proporsional
itu lho, dik, yang aku mau katakan
tapi jangan ribut lho
‘ntar pendapatku salah dan kedengaran keluar
aku kan bisa repot”
“tapi, pak, bapak ini sebenarnya siapa ?”
“aku, dik, aku. mosok ‘ndak kenal ?
namaku bento rumah real estate
mobilku banyak harta berlimpah
orang memanggilku boss eksekutif
tokoh papan atas, atas segalanya
asyik…”
“oh, bapak vokalis to pak.”
“bukan, dek, wakil rakyat.”

masih pada tanggal 29 oktober 1993
menteri moerdiono selanjutnya menyatakan,
"mungkin tidak terlalu keliru untuk menyimpulkan bahwa sebagai media ekspresi sesuatu nilai yang dianut, bahasa mempunyai peranan politik yang penting, bukan hanya sekadar sebagai wahana komunikasi politik, tetapi juga menjadi sarana sosialisasi dan integrasi politik. dan dalam jaman kolonial, bahasa bahkan berfungsi sebagai manifestasi identitas dan garis pembeda yang jelas antara kaum sana dan kaum sini."

tapi mengapa di sini hanya berlaku satu bahasa
tak mungkin berbahasa lain
sehingga kata-kata banyak dilarang

pada tanggal 30 desember 1993
harian kompas menulis:
"keterbukaan memang menjadi indikator demokrasi. itu sebabnya keterbukaan kini dilegitimasi sebagai pendorong demokrasi. tapi adakah yang benar-benar berubah, kecuali fakta bahwa kini orang bisa membicarakan segala persoalan – termasuk menyampaikan aspirasi politik – secara lebih terbuka ? apakah ini bukan cuma keterbukaan untuk keterbukaan?"

perempuan dengan luka bacok di punggung,
marsinah
nasibmu tumpas di tangan majikan
kisahmu tamat di lembaran koran
harapanmu kandas di sajak para penyair
dukamu kikis di spanduk para mahasiswa
tetapi adakah nasibku berubah
marsinah,
sungguh ingin aku katakan
berbahasa yang baik dan benar memang penting
tetapi yang lebih penting
berperilaku yang baik dan benar

Makassar, 30 Desember 93 / 4 Januari 94

memainkan kapai-kapai, arifin c. noer
from my pic archive

Wednesday, June 22, 2005

SURAT LAMA UNTUK SHINTA

Assalamu Alaikum ....

Membaca namamu, aku seperti melihat Shanghai, dengan gugusan gedung bercahaya malam, bergegas gegar menyambut StarBucks dan Motorola -- sementara di lantai bawah gedung-gedung kelabu siang hari, dimainkan musik undergroud (yang paling populer saat ini adalah Placebo dari England dengan lagu antara lain berjudul "Sleeping With Ghost" itu). Aku singgah di sana bulan June, 2003.

Hanya nama, Shinta, dan aku seperti mengenang embun basah Takalala, juga harum ladang tembakau Cabenge, seutas senyum tak habis-habis dari rasa ingin tahu -- kamu juga mendengarkan Diana Krall menyanyikan The Look of Love, bukan? Dan betapa menenteramkan, laiknya RadioHead (lagi-lagi anak Inggris) menyanyikan Paranoid Android (semua lagu-lagu kesukaanku sekarang adalah lagu-lagu Indie = independent = underground = tapi juga memendam paradoks kapitalisme karena semua sampai ke komputerku melalui Microsoft juga). Atau nomor lainnya berjudul High and Dry.

Dan nama itu, hanya itu yang kemudian menjelma menjadi mile-stones (semacam penanda jejak) dari suatu wilayah samar bernama masa lalu, masa jatuh romantis abis bo (yang ini istilah anak-anak jaman sekarang). Samar, tapi nyata, meski sudah sesamar senja yang luruh di pantai Losari dan payung hitam Rotterdam - bos ini bukan Rotterdam di Deucsth (aku pernah singgah sekian jam di kota ini dalam perjalan ringkas ke Eropa) -- dan "kami akan terus bernyanyi hingga matahari padam, kalau matahari nyala lagi, kami akan tetap bernyanyi" (ini nomor dari Arman Dewarti). Samar, tapi mengasyikkan, membutakan, seperti jangkar labuh kapal-kapal dan aku menemukan rekreasi yang lain lagi....

Kota-kota, perjalanan-perjalanan, kekasih-kekasih ringkas, Cafe, malam, buku dan dengung Pentium, seperti membangun kesadaran tersendiri bahwa "cinta, memang hanya seutas kata yang menghubungkan produsen dan konsumen" (nah ini kutipan dari sajak hasymi ibrahim hihihihihih). Dan karena itu, kemurnian azali yang selalu dikais habis kawan-kawan untuk menemukan berlian_merah (ini id-ku di yahoo.com) yang bernama nilai-nilai (padahal Bank Danamon sudah mengkampanyekan nilai-nilai yang dianut perusahaan itu dengan TRIP (Tranparency, Responsiveness, Integrity and Professionalism) memang ada di sana, di masa lalu yang jauh itu.

Dan atas nama "nama" itu pula, aku mengutip Little India, setapak wilayah Singapore dalam sebuah monolog yang ditulis iparku Lily Yulianti :

kepada jiwaku, // tidakkah lebih baik // kau tanam karat ambisimu // bersama rel yang melintasi // pulau, yang terguyur //garam laut?
lalu kau lumasi // gerigi-gerigi otakmu // dengan lelehan bulan // di atas pulau, agar kau tahu // manisnya sebuah keterbatasan
monorail menggilas // rel coklat berkarat // turunlah, wahai jiwaku // pungutlah kebajikan // di dalam cangkang kerang // di sepanjang bujur pantai // sampai habis hari

Begitulah, mengapa semua terpaut pada satu nama, penanda jarak dan waktu, dan aku masih begini = meski perjalanan demi perjalanan aku telah tempuh kemana-mana, berjumpa dengan segala bangsa dan aroma tanah.

Jadi Shinta, kalau kamu tanya bunda untuk Bharata, itu jawabannya, untuk sementara...

Salam buat semua kawan di sana.

Wassalam,
~ami